Mengapa jarang sekali orang mengkritik media massa? apakah media massa adalah sebuah lembaga yang paling benar sehingga kita semua kehilangan ketajaman pemikiran terhadap yang satu ini? jika semua institusi terbiasa dikritik, pemerintah daerah, menteri, DPR/MPR, kejaksaan agung, organisasi-organisasi masyarakat, perusahaan bahkan lembaga kepresidenan yang sepertinya tak pernah berhenti menuai kritik dan demonstrasi. Bagaimana media massa yang seakan-akan jarang sekali tersentuh kritik? padahal banyak juga sebenarnya bagian-bagian bobrok dari media massa yang perlu diperbaiki. Tanpa bermaksud mengecilkan peranan media massa buat kemajuan bangsa ini, tanpa sadar, banyak juga peran yang seharusnya menjadi peran positif malah menjadi peran negatif media massa.
Kebesaran pengaruh media terhadap kebiasaan berpikir masyarakat jelas-jelas langsung terasa begitu melihat contoh kecil tayangan disebuah stasiun TV swasta berjudul “empat mata” yang dipandu oleh host pelawak yang sedang ngetop-ngetopnya bernama thukul arwana. Istilah-istilah yang biasa dipakai thukul seperti ” kembali ke laptop!” menjadi ngetop juga seiring dengan banyaknya pemirsa dan seringnya acara tersebut ditayangkan. Hal tersebut menjadi bukti betapa cepatnya masyarakat membiasakan diri dengan sesuatu yang baru yang didapat dari media. Empat mata hanyalah sebuah acara tanya jawab yang dibumbui lawakan yang hanya membuat kita terhibur dan kadang membuat kita ikut mengucapkan kalimat-kalimat kocak yang diucapkan presenternya. lalu bagaimana dengan acara-acara lain yang lebih serius? sudahkah kita memikirkan sebuah acara TV yang tampaknya memberi pengaruh kurang baik bagi pemikiran kita? pantaskah acara tersebut ditonton masyarakat kita? lalu akan seperti apa cara pandang masyarakat kita apabila itu berlangsung terus menerus?
Untuk itulah kritik buat media diperlukan. Jangan biarkan sebuah acara yang kurang bermoral (atau memiliki pesan moral yang rendah ) berjalan terus hanya karena laku dijual. media juga seharusnya berada dibawah kendali apa yang menjadi tujuan bersama bangsa. seperti halnya presiden tak berhak punya kekuasaan mutlak atas negara ini, jangan biarkan juga media massa menguasai sudut pandang kita seluruhnya. jangan biarkan media menentukan apa yang akan kita konsumsi hanya berdasarkan untung rugi bagi mereka, apabila sebuah acara ratingnya bagus mereka berhak menayangkannya walaupun acara tersebut sebenarnya bertentangan dengan tujuan bersama bangsa, menjadi bangsa yang maju, makmur, sejahtera dan bermoral tinggi. Akan sukar tercapailah tujuan bersama itu jika salah satu bagiannya menghianati seperti ini.
Melihat betapa lemahnya seseorang tak perduli apapun jabatannya begitu berhadapan dengan media massa seharusnya menyadarkan kita, betapa tak lagi berimbangnya kekuatan antar komponen pembangun bangsa. Betapa kecil sebenarnya kekuasaan seorang presiden bila dibandingkan media saat ini. Seorang presiden bisa saja jatuh dalam sehari hanya karena publikasi media. seorang presiden jelas tak bisa lagi membredel seenak perutnya sendiri sebuah media hanya karena bertentangan dengan dia. Nah untuk itu seharusnya ada kekuatan lain yang bisa mengontrol media agar tidak over power dan menjadi penguasa sendirian. Kritik-kritik masyarakatlah yang seharusnya bisa menghentikan media massa agar tidak bertindak semena-mena. Tak sesuatupun menjadi benar selamanya, tidak seorang menteri, tidak DPR, seorang presiden, tidak juga media massa. apabila ada sesuatu yang menjadi selalu benar, tak tersentuh kritik, pastilah ada sesuatu yang dipaksakan dibaliknya. Contohnya adalah kebijakan pemerintahan Amerika yang hampir selalu menjadi bisa diterima walaupun sebenarnya banyak yang tidak setuju, Itu bukanlah tanpa kritik. mereka tak tersentuh kritik karena dibalik mereka ada sebuah pemaksaan kehendak yang didukung oleh kekuatan militer yang sangat kuat. Jadi ahir-ahirnya kitapun bisa menerima meskipun sebenarnya kita benci cara mereka.
Lalu hubungannya dengan media massa? apabila media massa seolah-olah tak terkritik, ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama adalah masyarakat tak punya ketajaman pemikiran apabila itu menyangkut media massa, kemungkinan karena beranggapan bahwa media hanya penyambung fakta, tapi tak sampai berpikir bahwa fakta kebalikan dari fakta yang disampaikanpun ada. dan fakta tak mungkin tersampaikan semua. Kemungkinan kedua, banyak kritikan yang masuk ke media tapi otomatis tak akan sampai tersebar dan meluas karena media massa tersebut pasti tak mau merugikan diri sendiri dengan menyebarkan kritik tersebut sehingga mengakibatkan rusaknya nama baiknya sendiri. Jika yang terjadi adalah kemungkinan kedua ini, lalu bagaimana caranya kita semua yang mempunyai sudut pandang yang sama dan ingin memperbesar kekuatan kritik untuk media bisa bersatu? Gimana nih?
16 tanggapan so far ↓
nila // Maret 22, 2007 pada 6:04 am |
masyarakat cepat menyerap informasi…..
tapi giliran informasi yg membangun….*halah*…kho susah banget nyerapnya ya?
yg jelek2 dan negatif cepet bener nyampenya….
kendalikan dengan hati……
iya tuh mbak nila, apakah kualitas orang indonesia memang berbeda, atau ini soal kebiasaan ya?
aragone79 // Maret 24, 2007 pada 10:01 am |
yah, begitulah golongan kaum tinta…mau mengkritik, tapi tak mau dikritik..
btw, bung ivan, boleh tukaran link nggak? untuk sama-sama memperluas network aja…
khan lumayan punya network yang luas…he..he..he…
bisa banget mas, besok begitu saya update blog, blog anda pasti saya link!
passya // Maret 25, 2007 pada 4:54 am |
era kapitalis sperti sekarang, money talks….
bisa dibungkam pake apa ya tuh money biar gak bisa talks? hehehe
peyek // Maret 26, 2007 pada 2:36 pm |
ma’af bukannya nggak tersentuh, mungkin lebih tepatnya belum ada yang mengkritik, lha gimana klo dimulai dari anda.
ini saya sudah mencoba memulainya mas peyek, siapa tahu bisa jadi komunitas baru yang kritis media.
Kang Kombor // Maret 26, 2007 pada 10:58 pm |
Kang Ivan, Anda cukup jeli juga membaca fenomena absolutisme pers yang pelan tapi pasti mulai menyeruak di dalam keseharian kita. Memang jarang ada yang mengkritik pers kecuali pemerintah, pejabat pemerintah atau orang kuat partai yang menjadi obyek berita. Menurut pandangan saya, pers juga harus tetap dikritik kalau memang ada yang perlu dikritik.
thanks kang kombor, kita kritis tentunya karena kita memang menginginkan media massa yang bisa membangun masyarakat yang baik. sedang mereka yang mengkritik karena tersentil pemberitaan media biasanya hanya karena membela kepentingan pribadi,partai maupun institusi. tanpa tersentil mereka akan tetap acuh tak acuh.
kangguru // Maret 28, 2007 pada 2:19 am |
cuman berani ngak ya media itu mempublish kritik untuk dirinya
naaah…itu dia, mau gak yah?
anung // Maret 30, 2007 pada 12:17 am |
media..yg penting laku mas
masalah britanya bener apa kagak..
Sssst….sssst!
agorsiloku // April 2, 2007 pada 9:03 pm |
Media Massa dikontrol oleh masyarakat dan hati nurani pengelolaNya. Masyarakat mengontrol ketika dan hanya bisa pada level mematikan, tidak membeli, atau tidak berlangganan.
Namun, koran/tv yang “jelek” juga mewakili masyarakatnya juga. Kalau masyarakat gemar isue, dan sangat mengidolakan selebriti yang bahenol ya itulah cerminnya. Media massa adalah cermin masyarakatnya. Bagaimana mengendalikan media massa artinya sama dengan bagaimana mengendalikan masyarakat…..
setuju mas!
tapi saya pikir media juga yang menjadikan seleb tsb jadi idola,
media juga yang seringkali menjadi sumber masalah yang menyangkut isu yang diekspos.
masalahnya susah juga mendidik masyarakat tanpa dukungan media.
kalo sebuah isue atau seorang selebriti muncul terus menerus di tv, maka kitapun sebagai pemirsa seringkali dengan terpaksa menyimak karena stasiun lain juga menampilkan acara yang sama.
masalahnya, bagaimana sebenarnya cara para pemirsa bisa mengungkapkan ketidaksukaan atau kebosanannya pada acara yang dimaksud? apakah cukup dengan tidak usah menontonnya?
jujur saja, dengan cara tersebut saya dalam posisi pemirsa merasa kurang terwakili.
agorsiloku // April 2, 2007 pada 9:04 pm |
pengelolaNya -> pengelolanya
minie // April 4, 2007 pada 1:50 am |
susah juga kalo disuruh mengendalikan masyarakat, lebih mudah mengendalikan media.
tapi sekarang media kan tidak bisa dikendalikan lagi. seharusnya dengan kebebasan tsb mereka mengenali tanggung jawab mereka.
tanggung jawab seperti apakah mbak min?
nov // April 4, 2007 pada 3:51 am |
hai..
prim // April 4, 2007 pada 3:59 am |
Sebenarnya udah ada yang tukang kritik untuk media massa khususnya televisi, tapi sampai sekarang kok nggak ada hasilnya.. giman nih KPI.. ada orangnya nggak….! Kalau nggak ada biar kita aja yang menggantikan…!!
#) bikin kpi tandingan xexexe (sekarang kan lagi musim)
Golongan Pembaca... « Jurig Cantik // April 5, 2007 pada 6:51 am |
[...] setelah membaca tulisannya mas Ivan yang berjudul Media Massa Tak Tersentuh Kritik ?, jadi pengen bahas pers… hehehe ….tapi ini rada ga nyambung dg apa yg ditulis mas [...]
#) weleh, dapet temen nih yang satu topik
Pacaran Islami // Mei 3, 2007 pada 1:59 am |
Pendaftaran Top-Posts Maret-April 2007 telah dibuka.
Silakan daftarkan postingan Anda di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/05/02/pendaftaran-top-posts-maret-april-2007/
Pemilihan Top-Posts Mar-Apr 2007 « M Shodiq Mustika // Mei 26, 2007 pada 8:59 pm |
[...] b. Media Massa Tak Tersentuh Kritik? [...]
Inilah Top Indonesian Spiritual Posts (2) « M Shodiq Mustika // Juni 6, 2007 pada 1:04 am |
[...] Media Massa Tak Tersentuh Kritik? [...]