dalamhati.wordpress.com

Generalisasi,Benarkah Sebuah Pola Pikir yang Salah?

April 5, 2007 · & Komentar

       Membaca postingan teman teman blogger tentang generalisasi, mas arif kurniawan dengan postingannya haruskah saya membenci israel dan fourtynine dengan mana yang lebih layak untuk dibenci komunisme atau kapitalisme?, saya jadi tergelitik untuk menulis juga dengan gaya saya sendiri yang tentu saja masih dangkal dan subyektif. generalisasi yang banyak diperdebatkan banyak orang tersebut tanpa kita sadari sebenarnya telah berurat akar dalam kebiasaan berpikir kita, bahkan bagi orang yang dengan lantang mengungkapkan bahwa ia anti dengan generalisasi. Generalisasi menurut kacamata saya yang masih buram ini adalah kesimpulan yang mengandung prasangka(berarti belum pasti) yang berdasarkan atas pengalaman-pengalaman pribadi maupun berdasarkan informasi yang  di peroleh terus menerus tentang sesuatu hal. Sedikit menanggapi postingan mas arif kurniawan, tentang “haruskah saya membenci israel” beserta kontroversinya, saya ingin bertanya kepada blogger semua, apakah yang namanya generalisasi itu benar-benar sesuatu yang salah yang harus kita buang hingga bersih dari pola berpikir kita?

   jika sebuah masyarakat secara terus menerus mengalami penindasan, seperti yang dialami masyarakat palestina yang selalu diganggu, dibombardir, disiksa dan dibunuh oleh sebuah bangsa yang misalnya; disebut israel, tidak berhakkah bangsa palestina tersebut menggeneralisasi sesuai pengalaman mereka bahwa israel itu jahat? lalu kepada siapa mereka hendak melawan, bagaimana mereka membedakan israel yang baik dan israel yang jahat? kalo mereka harus pilih-pilih begitu barangkali mereka akan habis duluan, masalahnya israelnya sendiri tanpa pandang bulu membunuhi orang-orang mereka. secara subyektif saya ingin mengatakan bahwa, generalisasi bangsa palestina ini tentulah karena berdasarkan pengalaman mereka sendiri tentang kekejaman dan kesadisan terhadap mereka. Mohon dibaca juga postingan mas arif yang satunya, Mengapa Saya Membenci FPI? disitu kurang lebih banyak memuat comment-comment yang mengungkapkan pengalaman -pengalaman kurang mengenakkan dengan FPI. dan ini menjadi bukti bahwa, generalisasi adalah hasil dari pengalaman dan informasi tentang sesuatu hal.

       Banyak dari kita takut kepada ular karena kita pernah punya pengalaman digigit, atau barangkali sering mendengar informasi tentang orang digigit ular. mungkin juga karena menonton film, atau membaca buku tentang ular-ular yang berbahaya, karena semua itu berlangsung sejak kecil, pikiran kitapun lalu menggeneralisasi bahwa ular itu berbahaya. Bukankah faktanya tidak semua ular menggigit?  pikiran kita yang telah terlanjur berprasangka membuat kita memilih untuk menjauhi ular.

        Saya sendiri tidaklah menyetujui generalisasi seperti yang dimaksud oleh mas arif kurniawan dalam postingannya, nampaknya kok kejam sekali menghakimi seseorang berdasarkan fatkor-faktor yang orang tersebut tak kuasa merubahnya. Membenci orang kristen karena kekristenannya, atau orang islam karena keislamannya, membenci kulit hitam, membenci orang karena negaranya, hanya disebabkan oleh apa yang dilakukan orang lain dengan identitas yang sama dengan mereka. Tapi saya merasa, saya juga tidak bisa membuang begitu saja pola pikir generalisasi  yang telah tertanam sejak kecil. saya pikir pola pikir generalisasi itu masih ada fungsinya bila digunakkan untuk kasus yang lain. pemilihan umum misalnya, apabila ada 3 orang calon presiden, capres A mendapat dukungan 15% suara, capres B mendapat 35% suara, capres C mendapat 50% suara.lalu kita menjadikan C sebagai presiden karena C dianggap paling mewakili suara rakyat. Padahal kenyataannya, tidak semua suara memilih C bukan? eh, itu bisa gak sih dianggap sebagai generalisasi? menganggap C sebagai representasi pilihan rakyat seluruhnya. masalahnya apabila kita menunggu hingga calon presiden ada yang didukung 100% suara kayaknya gak mungkin. atau kalo ini gak bisa disebut generalisasi, salahkah jika kita melakukan generalisasi seperti kasus ular tadi? 

      Dangkal atau tidak generalisasi yang saya sebut tadi menurut kacamata anda, saya tidaklah bermaksud membuat pembenaran, atau menyalahkan sebuah opini yang sudah ada sebelumnya. Saya hanya menyampaikan jalan pikiran saya, saya justru akan sangat senang jika suatu saat ada seseorang yang datang untuk membetulkan kekeliruan cara berpikir saya. Untuk itu saya mengharapkan komentar dari anda. bagaimana sebenarnya semua ini menurut anda?

Kategori: opini

33 tanggapan so far ↓

  • joerig // April 5, 2007 pada 6:07 am | Balas

    bener ato salah …. kalo orang israel memperluas negaranya dg cara mencaplok palestina, menurut org israel bener, karena merasa berhak… kalo menurut org palestina, mereka berhak mempertahankan wilayah dari org israel…
    kalo ada orang benci ke orang lain karena perbedaan ras atau agama dan merasa bener, itu karena doktrin yg dia terima, jadi menurut dia bener… kalo masalah presiden, itu demokrasi namanya…

    jadi kayanya sangat sulit menilai bener ato salah perilaku orang lain, karena yg bisa merasa bener ato salah ya yg bersangkutan …

    tapi ini kan cuma pendapatku aja … :D

    iya yah, pantesan banyak orang sampai brantem mempertahankan sudut pandang. mereka benar-benar merasa #) benar dan merasa yang lain salah.
    ahirnya kembali ke hukum rimba: yang kuat yang menang!
    ahirnya harus nyari temen lagi buat menambah jumlah, biar kuat!

  • hamlennon // April 5, 2007 pada 11:12 am | Balas

    Saya rasa generalisasi bisa jadi benar tergantung tentang masalahnya sih bro… Yang pasti jangan ngikut pemikiran yang tergeneralisasi kalau kamu ga tau permasalahan pastinya apa?

    Contohnya nih : Komunis itu haram.. soalnya ga boleh ada agama dalam sistem tersebut. Padahal emang km tau komunis itu apa, uda baca buku2 karl Marx belum. Sudah liat negara2 komunis dan nasib mereka sekarang?

    Nah kalo uda pada baca semua, uda jelas gimana komunis itu, baru kita bicara!! kapan perlu diskusi dengan rendah hati. Jangan kebanyakan nulis di blog, cara paling bagus bikin forum diskusi. Dan kalau bisa forum yang nyata!

    Generalisasi biasanya sih hasil dari Propaganda Media. Terkadang pada taraf saya menjadi rakyat saya benci dengan propaganda, tapi kalau uda jadi birokrat propaganda ini bisa jadi senjata.! hahahahaha


    #)bikin forum diskusi, kalo bisa forum nyata, wah menarik banget saran anda yang satu ini..
    iya yah, generalisasi bisa dijadikan senjata oleh mereka.. cuma karena seorang tokoh di partai tertentu yang berbuat tidak terpuji pasti akan digunakan oleh lawan politik mereka untuk propaganda. menggeneralisasi partai tersebut sebagai partai yang tidak baik. anda cukup jeli juga melihat permasalahan generalisasi sampai ke permasalahan politik.

  • Amd // April 5, 2007 pada 12:45 pm | Balas

    Betul itu,
    generalisation kalo menurut kamus:
    an act of making a general or broad statement by inferring from specific cases.

    Generalisasi muncul pastinya karena ada alasan tertentu dari si penggeneralisir, bisa jadi pengalaman, langsung maupun tidak, bisa juga karena pengaruh media, seperti kata hamlennon, yang jelas ada yang mendasari dan jadi “reason” untuk menggeneralisir sesuatu.

    Sependek yang saya tahu, generalisir bukanlah sesuatu yang berbahaya, karena masih dalam tahap “persepsi pribadi”. Menjadi masalah ketika generalisasi terhadap satu hal kita paksakan agar orang lain beranggapan yang sama (menginfluence).

    Bahkan dalam proses pembelajaran-pun, overgeneralisasi masih tetap bermanfaat, terutama untuk mengetahui kesalahan dalam proses acquiring knowledge kita.

    Bleh bleh bleh ngomongnya kok beribet gini sih..
    Intinya sih gapapa generalisasi asal jangan ngajak-ngajak, maksa lagi, itu yang bikin empet, hehe

    #)generalisasi bukanlah sesuatu yang berbahaya karena masih dalam tahap “persepsi pribadi.” mulai menjadi masalah ketika generalisasi tentang suatu hal kita paksakan agar orang lain beranggapan yang sama (menginfluence), setuju tuh mas! masing-masing dari kita pasti memiliki pengalaman berbeda, contoh yang sudah ada: bagi orang-orang yang merasa dirugikan ( bisa berupa kesulitan-kesulitan maupun kekerasan ) pada masa orde baru, saya yakin mereka pasti berpendapat orde baru itu buruk. dan bagi orang-orang yang diuntungkan semasa orde baru, dan saat ini mengalami kesulitan saya yakin hatinya akan mengatakan bahwa orde baru itu lebih baik. tapi kita tidaklah bisa melihat isi hati orang.pasti ada sebagian orang yang demikian yang saat inimenjadi oportunis dan mengingkari isi hatinya. masalahnya dimasa sekarang, mengungkit kebaikan-kebaikan dari orde baru itu tidaklah menguntungkan. Eh, saya jadi menemukan satu hal lagi nih! benarkah saat ini kita juga telah melakukan generalisasi terhadap orde baru? benarkah semua hal dari orde baru itu buruk? benarkah tidak ada sesuatupun yang baik? masalahnya saya tak pernah mendengar sebuah pujianpun, yang ada hanya cercaan-cercaan! ataukah barangkali hanya karena beberapa bagian yang buruk kita semua jadi menggeneralisasi bahwa orde baru itu buruk! apakah kita semua yang telah menjadi kaum oportunis yang selalu cari selamat dan cari untung tapi tak berani mengungkapkan fakta? ataukah faktanya yang buruk semua?
    satu hal lagi, opini seorang jurnalis bisa jadi sangat berbahaya. masalahnya seperti yang mas amd sebut tadi, generalisasi bisa jadi berbahaya ketika coba disebarluaskan. nah! hanya kaum jurnalis yang mempunyai kemampuan demikian. mohon baca juga postingan saya yang satunya: Media massa tak tersentuk kritik? (by: ivan)

  • peyek // April 5, 2007 pada 2:50 pm | Balas

    sebenarnya tergantung darimana kita memandang persoalan, masalah opini pribadi untuk mengeneralkan masalah itu hak pribadi sesorang, yang penting tidak memprovokasi atau mengarahkan cara pandang seseorang terhadap suatu permasalahan.

    #)he eh! jadi pengin ngopi ngopi di tempat mas peyek sambil ngobrol-ngobrol nih!

  • arifkurniawan // April 5, 2007 pada 7:55 pm | Balas

    Whehehe… saya diomongin nih. Alhamdulillah, akhirnya jadi artis juga. Whehehe…

    Maap komennya OOT, saya lagi kesenengan nih, disebut-sebut berapa kali.

    *saking narsisnya, jadi gila begini. Halah!*

    huehehehe

    #) xexexe… masuk tv dong!

  • venus // April 5, 2007 pada 11:55 pm | Balas

    lho! perasaan kemaren baca postingan yg mirip2 ini deh. di blog salah satu temen saya. coba saya bongkar2 lagi. jadi penasaran. ini, orang yg sama kah?

    #) barangkali semalam ngimpinya sama mas hehehe

  • newbie // April 6, 2007 pada 5:37 am | Balas

    Bisa juga generalisasi dilakukan karena malas berpikir sehingga istilah Jawa-nya hantam kromo…babat habis

  • deking // April 6, 2007 pada 5:39 am | Balas

    Maaf…tadi salah identitas :D
    Bisa juga generalisasi dilakukan karena malas berpikir sehingga istilah Jawa-nya hantam kromo…babat habis

    #) istilah jawa sbenarnya komplit juga yah mas!
    xexexe, jadi ketauan nih punya banyak nickname!

  • dedidwitagama // April 6, 2007 pada 6:43 am | Balas

    generalisasi … apalagi ttg Israel, menarik utk didiskusikan:)

    #)apalagi kalo diskusinya sambil ngopi dan makan gorengan….ups!

  • agorsiloku // April 6, 2007 pada 7:38 am | Balas

    Generalisasi ya penting sekali, terutama dalam statistik. Kalau tidak digeneralisir, susah toh, semua pada populasi harus ditanya, jadi sensus namanya……

    Nggak nyambung….

    #)nah itu dia maksudku! statistik!

  • senja // April 6, 2007 pada 10:25 am | Balas

    generalisasi biasanya bermula adanya suatu informasi yang tidak berimbang alias hanya memunculkan fakta dari satu sisi saja, sehingga memicu alur berpikir yang tidak kritis. budaya berpikir kritis inilah yang seharusnya musti dikembangkan. selalu bertanya dan mencari kebenaran atas apa yang terjadi di dunia ini. namun, harus diakui dalam beberapa kondisi generalisir memang dibutuhkan, kendati tanpa melupakan bdsaya berpikir kritis itu sendiri.

    #)selalu kritis mencari kebenaran atas apa yang terjadi, trims mas, anda memberiku ide untuk mengganti kalimat di header blog ini!

  • tukangkomentar // April 6, 2007 pada 10:30 am | Balas

    “generalisasi bukanlah sesuatu yang berbahaya karena masih dalam tahap “persepsi pribadi.” mulai menjadi masalah ketika generalisasi tentang suatu hal kita paksakan agar orang lain beranggapan yang sama (menginfluence)”
    Saya kok kurang setuju dengan kalimat ini.
    Memang generalisasi ada yang positif dan ada yang negatif. Contohnya: orang Jawa yang dirantau selalu dihubungkan dengan rajin dan ulet.
    Sedangkan kalau kita memikirkan orang Madura yang hidup di Jawa Timur selalu asosiasi kita ialah: kasar, keras, mudah marah (bahkan asosiasi sampai menjadi cap bagi orang Madura secara menyeluruh).
    Kebanyakan kalau kita membicarakan generalisasi yang dimaksud ialah generalisasi yang negatif dan persepsi ini memang untuk perorangan ialah persepsi pribadi, tetapi merupakan sebuah bagian dari persepsi umum.
    Jadi pengaruhnya ialah dari pandangan umum ke kitanya, bukan terbalik. Jarang, tetapi memang mungkin terjadi, bahwa persepsi pribadi mempengaruhi umum, contoh: Hitler dan persepsinya terhadap kaum Yahudi. Tetapi: bukankah sebelumnya persepsi pribadi Hitler itu juga merupakan efek dari pengaruh pandangan umum???
    Maksud saya: persepsi pribadi itu bukan persepsi yang tumbuh begitu saja, ia sudah merupakan cermin pandangan masyarakat umum, kan?
    (Nyambung nggak sih?? :) )


    #) memang benar mas, biasanya generalisasi tumbuh dalam pikiran kita setelah kita mendengar informasi-informasi tentang suatu hal, tentang suku jawa yang katanya ulet, tentang suku madura yang katanya keras dan kasar. jika kita menggeneralisasi sesuatu berdasarkan informasi saja pasti hal seperti itulah yang terjadi.
    tapi kembali ke persepsi umum dan persepsi pribadi, bukankah persepsi umum juga dibentuk oleh persepsi persepsi pribadi dari orang yang mengalaminya langsung dari pengalaman?
    misal, jika seorang bernama inem pergi ke malaysia sebagai TKW,dia datang tanpa prasangka, disana dia mengalami penyiksaan, pelecehan dan perkosaan, kemudian dia pulang keindonesia.
    besoknya adalagi seorang bernama marni, datang kemalaysia tanpa prasangka, kemudian dia mengalami hal yang sama,
    besoknya ada lagi, warsiyem datang ke malaysia, pertamanya juga tanpa prasangka, tapi kemudian mengalami hal yang sama. lalu apa yang akan terjadi jika ketiga orang itu bertemu? pasti mereka akan menyimpulkan bahwa, ternyata jadi TKW dimalaysia itu tidak enak, orangnya jahat jahat. padahal kita juga tahu, tidak semua orang malaysia itu jahat. tapi mereka punya alasan untuk membenarkan, mereka juga pertama datang tanpa prasangka seperti itu, tapi pengalaman mereka membuktikannya bukan?
    saya yakin persepsi umum terbentuk seperti ini. apalagi jika kasus seperti ini sering diliput media massa, maka persepsi yang asalnya persepsi pribadi akan menjadi persepsi umum yang lebih meluas. para pembaca koran, pemirsa televisi, dan pendengar radio akan menarik kesimpulan yang sama setelah mendengar kasus tersebut terjadi berulang-ulang. nah, inilah golongan yang anda maksud, orang yang menggeneralisasi masalah karena mendengar informasi.
    begitu kurang lebih alasan saya mengapa saya menyetujui pendapat tadi. trims! (by: ivan)

  • Dani Iswara // April 6, 2007 pada 10:45 am | Balas

    kl bermakna scr statistik boleh lah.. :D
    jgn sampai ada org yg termakan ‘generalisasi’ dari sudut pandang pribadi..

    #)iyalah, kalo mendengar sesuatu dari “kata orang” mendingan dipikirkan lagi dulu!

  • junthit // April 6, 2007 pada 12:46 pm | Balas

    belajar berpikir “out of the box” mungkin bisa meminimalkan ‘generalisasi’…


    #) artinya memandang permasalahan dari sudut yang lain-kah?

  • cakmoki // April 6, 2007 pada 6:14 pm | Balas

    Lima tahun pertama datang di pinggiran kaltim yang heterogen, hampir saban minggu njahit luka bacok karena dipicu generalisasi antar kelompok.
    Menurut saya, yang diperlukan penilaian bijak terhadap sesuatu permasalahan.

    #)bentul itu mas!

  • aroengbinang // April 6, 2007 pada 10:32 pm | Balas

    ada kebenaran dalam cara pikir memakai generalisasi, demikian juga cara berpikir kebalikannya;
    tentu ada keterbatasan dan pengecualian; menerima keterbatasan setiap cara pikir mengurangi bias yg terlalu lebar terhadap kasus individual.
    hendaknya yg dihasilkan adalah kewaspadaan, ketimbang kecurigaan atau kebencian. salam.

    #)sip… saya akan coba saran anda.

  • Social Disobedience « Generasi Biru // April 7, 2007 pada 12:31 am | Balas

    [...] Atau Kapitalisme?Blog seharga koran lamer « IT & Comm on Trial And Error (Voting)Generalisasi,Benarkah Sebuah Pola Pikir yang Salah? « dalamhati.wordpress.com on Mana Yang Lebih Layak Untuk Dibenci? Komunisme Atau Kapitalisme?Fourtynine on Tolong Baca Dengan [...]

  • Kang Kombor // April 7, 2007 pada 10:26 am | Balas

    Generalisasi bisa diangkat dari beberapa kasus spesifik yang mirip. Kalau menggeneralisir tanpa dasar, tentunya yang melakukan itu adalah orang tidak punya otak yang katabu dokter memiliki 1 trilyun apalah namanya itu.

    apa ya bu dokter?

  • Communism and Other Stories « f e r t o b // April 7, 2007 pada 12:11 pm | Balas

    [...] tulisan beberapa hari ini. Tidak semua laki-laki menjadi judul pertama yang saya baca; kemudian Generalisasi :Benarkah sebuah pola pikir yang salah ? dan terakhir Mana yang lebih layak untuk dibenci, Komunisme atau Kapitalisme [...]

  • senja // April 8, 2007 pada 4:21 am | Balas

    maap muncul lagi, sekedar meluruskan: daku perempuan, kok dipanggil mas, ah anda sedang menggenalisir yah, klo yang punya blog itu musti dipanggil mas..hahahahaha.

    xexexe….
    sori deh mbak!

  • Suluh // April 8, 2007 pada 6:05 am | Balas

    Pertahanan hidup kita seringkali merupakan hasil generalisasi tak sadar. Tidak ada seorang pun yang mampu hidup di dunia ini tanpa menggunakan pola pikir seperti ini. Semisal kita memperoleh hasil generalisasi bahwa gigitan ular itu membawa kematian. Dengan mengambil beberapa contoh peristiwa bahwa ketika ular menggigit seseorang maka setelah beberapa jam manusia tersebut mati. Seperti halnya kita bertahan hidup dari panasnya api. Dinginnya es. Dan lain lain. Generalisasi merupakan pola pikir yang juga bisa disebut sebagai pola pikir induktif. Matahari terbit dari timur merupakan hasil generalisasi. Energi tak dapat diciptakan dan di musnahkan merupakan hasil generalisasi. Kecepatan cahaya di ruang hampa merupakan hasil generalisasi. Pengetauhan yang kita bentuk merupakan hasil generalisasi generalisasi. Namun generalisasi memiliki celah atau kritik. Hume telah mengungkapkan hal ini…

    Sekian dulu..


    sekaligus, itulah cara belajar yang paling mudah.

  • Thamrin // April 9, 2007 pada 2:21 am | Balas

    Generalisasi biasanya karena nggak tahu detail, jadi yang umum-umum saja. Pemahaman pun menjadi dangkal…. Tapi nggak apa-apalah, karena toh setiap orang bebas berpendapat

    tapi kadang kadang bisa merugikan juga sih!

  • andrias ekoyuono // April 11, 2007 pada 12:01 am | Balas

    Generalisasi adalah sebuah hal yang wajar apabila aliran informasi yang diterima oleh masyarakat didominasi oleh informasi yang berasal sisi  yang mendukung terciptanya generalisasi itu. Kalau dalam hal Public Relation, generalisasi ini mendukung proses penciptaan image.  Namun ada hal yang lebih kuat daripada image, yaitu reputasi. Karena -tidak seperti image – reputasi adalah hal yang tidak tercipta secara instan, dan dibangun selama bertahun-tahun secara konsisten.

    Nah masalahnya di Israel adalah mereka memiliki reputasi buruk :-)

    dan konsisten mengacaukan perdamaian

  • kangguru // April 17, 2007 pada 11:44 pm | Balas

    kalo di sunda istilahnya mungkin disakompet daunkeun dan emang berkonotasi kurang baik

  • venus // April 19, 2007 pada 7:14 am | Balas

    maap OOT;
    udah sign petisi online? tolong bantu sebarkan kalo bisa ya? thx :)

  • escoret // April 25, 2007 pada 9:29 am | Balas

    ini mau komentar dimana thoo..?????
    panjang bgt..!!!!!

  • Kenapa ... « Jurig Cantik // April 30, 2007 pada 12:55 am | Balas

    [...] generalisasi oh generalisasi … kenapa begitu besar pengaruhnya dalam menciptakan pandangan atau tanggapan kepada hal-hal yg dianggap aneh bin unusual ? kenapa ketika ada wanita yg pake photoshop, illustrator, flash, autocad & 3ds max dipandang aneh dibanding dengan yg pake word, excell & powerpoint ? apa karena wanita hanya pantas untuk menggunakan office dibanding software2 “aneh bin unusual” diatas ? Kenapa ketika wanita memilih kawasaki ninja 150RR sebagai kendaraan kesayangan dipandang aneh dan berlebihan dibanding dengan yg pake motor bebek atau skuter matik ? apa karena wanita hanya pantas untuk memakai motor kecil & praktis daripada motor yg pake kopling yg identik dengan “motor lanang” ? Kenapa ketika seorang wanita di hari minggu atau hari libur lebih suka menonton kejurnas motocross atau roadrace dipandang aneh dibanding dengan yg lebih suka windowshopping di mall atau mengunjungi salon ? Kenapa ketika wanita lebih suka memainkan game dengan genre perang atau action-adventure di PS atau PC dipandang aneh dibanding dengan yg lebih suka memainkan game-game “kecil” seperti solitaire atau zuma? Kenapa ketika wanita lebih suka berlatih taekwondo dan capoera dipandang aneh dengan ekspresi -apa-elo-cukup-bego-buat-ngelakuin-itu-semua- dibanding dengan yg lebih suka berlatih tari atau nyanyi ? [...]

  • Kumpulan Cerita Di Hari Jum'at dan Malam Jum'at, Yang Tidak diceritakan DI Hari Jum'at « I’m not King, Queen, or Gods. I’m just Slankers // April 30, 2007 pada 1:30 am | Balas

    [...] setelah adzan (adzan kedua, bagi yang merasa bahwa adzan Jum’at itu harus 2x). Apakah ini sebuah generalisasi? Entahlah, yang jelas inilah hasil observasi dan survey amatiran saya selama [...]

  • Herianto // Mei 8, 2007 pada 8:24 am | Balas

    Untuk memahami hal-hal semacam ini menurut saya kita butuh sistem tentang cara menimbang. Dalam konteks ini saya sering menggunakan metoda yang oleh yusuf qardhawi disebut dengan fiqh awwaliyat. Metoda menimbang dalam Islam sangat berkaitan dengan membuat prioritas pada realita (waqi). Ini berasal dari pemahaman universal, misal : jika ada dua hal yang buruk dan kita dipaksa memilih kita pasti memilih yang paling sedikit buruknya, dan jika ada dua hal yang baik dan kita diminta memilih satu saja, tentu kita memilih yang lebih banyak baiknya.
    Contoh konkrit membaca qunut di waktu subuh hukumnya sunnah dan menjaga persatuan sesama ummat Islam hukumnya wajib, maka kita memilih yang kedua dong ketimbang ribut melulu masalah qunut.
    Mencurigai keburukan Yahudi adalah wajib menurut Al Quran, ditambah lagi fakta bahwa karakter mereka sedari dulu sampai sekarang memang selalu kelewatan (membunuh para nabi, mengarang kitab agar sesuai dengan maunya, merampas hak bangsa palestina, mengacaukan dunia…). Oleh karena membenci kemungkaran adalah sebagian dari pertahanan Iman, maka Yahudi pantas dibenci.
    Jika anda ingin tahu lebih jauh, bacalah fiqh awwaliyat-nya yusuf qardawi tersebut. (Apa masih ada dijual ya ?).
    Tks, salam kenal.

  • prim // Mei 15, 2007 pada 5:56 am | Balas

    Kebenaran sebenarnya memang datang dari Tuhan..tapi manusia juga diberikan akal dan hati untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah.. kalau kebenaran itu sesuai dengan ketentuan dari Tuhan itu baru kebenaran yang hakiki.. tapi kalau kebenaran tidak sesuai dengan hukum Tuhan berarti itu kebenaran semu….!!!!!

  • shinobigatakutmati // Juni 18, 2007 pada 2:15 pm | Balas

    yah begitulah namanya pemikiran, bung ^ ^ dan saya sih sah sah saja bila dia menulis demikian. karena ini bukan masalah subjektivitas, namun kolektivitas dari seseorang dalam penyikapan permasalahan yang ada.

    bila memang agak terkesan mengganggu, yah sebenarnya itulah pencerminan dari penulisnya. yang lugas, kontras, tegas, kritis dan tidak mengenal pengandaian yang blak-blakan. saya juga bukan yang ahli dalam hal ini, namun bagaimanapun selama dia masih dalam koridor yang berlaku dan kode etik jurnalis diperhatikan, maka tulisannya tetaplah dianggap sah-sah saja. provokatif mungkin adalah bumbu yang dipakainya. namun, dibalik itu justru akan membuat kita berpikir dan mampu menyerap maknanya dengan baik. tapi memang ada beberapa kekurangan dalam penyampaian, menjadi halangan untuk komunikatif dengan pembaca.

    tapi kembali lagi pada si penulis. bisa jadi dia punya alur pemikiran yang lain, dan tidak diduga sebelumnya? toh saya hanya melihatnya sebagai garis besarnya saja. hehehe

    keep posting ^ ^

  • Bercinta Dengan Saudara Sendiri « Parking Area // Juli 2, 2007 pada 10:52 am | Balas

    [...] dan menyebalkan. Sedikit sedikit menangis dan ngambek. Itulah sifat yang menjadi dominan dan digeneralisir oleh para kakak kakak seperguruannya, tanpa memperdulikan kemungkinan lain yaitu masalah hatinya [...]

  • Tim Marx-Dostoevsky // Juli 3, 2007 pada 3:03 am | Balas

    Uji pengetahuan anda tentang Marx, dengan menjawab pertanyaan yang tercantum di http://meontology.blogdrive.com , dan jawaban terbaik akan mendapatkan hadiah menarik…..

Tinggalkan sebuah Komentar