“Ke jakarta mau ngapain lagi nak?” begitu yang ibu bilang ketika aku berpamitan hendak pergi meninggalkan kota asalku untuk ke Jakarta. Aku bingung menjawab pertanyaan ibu waktu itu, mau ngapain yah? tujuan aku waktu itu memang benar-benar kabur. Apakah benar-benar karena untuk mencari pekerjaan baru untuk menggantikan pekerjaan lama yang tak lagi bisa memenuhi kebutuhan material/immaterial. Atau karena ada sesuatu yang mengecewakan yang tak perlu aku sebutkan disini berhubungan dengan kehidupan sosialku disana sehingga aku begitu saja memutuskan pergi.
Ibu mungkin memiliki pandangan yang jauh ke depan sehubungan apa saja yang aku akan lakukan sehingga beliau dengan segala sumbang pikirnya berusaha mengarahkan aku untuk lebih bijak memikirkan segala akibat dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dimasa depan sehubungan dengan keputusan-keputusanku. (lagi…)