Media Massa Tak Tersentuh Kritik?

Posted on Maret 22, 2007

16


Mengapa jarang sekali orang mengkritik media massa? apakah media massa adalah sebuah lembaga yang paling benar sehingga kita semua kehilangan ketajaman pemikiran terhadap yang satu ini? jika semua institusi terbiasa dikritik, pemerintah daerah, menteri, DPR/MPR, kejaksaan agung, organisasi-organisasi masyarakat, perusahaan bahkan lembaga kepresidenan yang sepertinya tak pernah berhenti menuai kritik dan demonstrasi. Bagaimana media massa yang seakan-akan jarang sekali tersentuh kritik? padahal banyak juga sebenarnya bagian-bagian bobrok dari media massa yang perlu diperbaiki. Tanpa bermaksud mengecilkan peranan media massa buat kemajuan bangsa ini, tanpa sadar, banyak juga peran yang seharusnya menjadi peran positif malah menjadi peran negatif media massa.

Kebesaran pengaruh media terhadap kebiasaan berpikir masyarakat jelas-jelas langsung terasa begitu melihat contoh kecil tayangan disebuah stasiun TV swasta berjudul “empat mata” yang dipandu oleh host pelawak yang sedang ngetop-ngetopnya bernama thukul arwana. Istilah-istilah yang biasa dipakai thukul seperti ” kembali ke laptop!” menjadi ngetop juga seiring dengan banyaknya pemirsa dan seringnya acara tersebut ditayangkan. Hal tersebut menjadi bukti betapa cepatnya masyarakat membiasakan diri dengan sesuatu yang baru yang didapat dari media. Empat mata hanyalah sebuah acara tanya jawab yang dibumbui lawakan yang hanya membuat kita terhibur dan kadang membuat kita ikut mengucapkan kalimat-kalimat kocak yang diucapkan presenternya. lalu bagaimana dengan acara-acara lain yang lebih serius? sudahkah kita memikirkan sebuah acara TV yang tampaknya memberi pengaruh kurang baik bagi pemikiran kita? pantaskah acara tersebut ditonton masyarakat kita? lalu akan seperti apa cara pandang masyarakat kita apabila itu berlangsung terus menerus?

Untuk itulah kritik buat media diperlukan. Jangan biarkan sebuah acara yang kurang bermoral (atau memiliki pesan moral yang rendah ) berjalan terus hanya karena laku dijual. media juga seharusnya berada dibawah kendali apa yang menjadi tujuan bersama bangsa. seperti halnya presiden tak berhak punya kekuasaan mutlak atas negara ini, jangan biarkan juga media massa menguasai sudut pandang kita seluruhnya. jangan biarkan media menentukan apa yang akan kita konsumsi hanya berdasarkan untung rugi bagi mereka, apabila sebuah acara ratingnya bagus mereka berhak menayangkannya walaupun acara tersebut sebenarnya bertentangan dengan tujuan bersama bangsa, menjadi bangsa yang maju, makmur, sejahtera dan bermoral tinggi. Akan sukar tercapailah tujuan bersama itu jika salah satu bagiannya menghianati seperti ini.

Melihat betapa lemahnya seseorang tak perduli apapun jabatannya begitu berhadapan dengan media massa seharusnya menyadarkan kita, betapa tak lagi berimbangnya kekuatan antar komponen pembangun bangsa. Betapa kecil sebenarnya kekuasaan seorang presiden bila dibandingkan media saat ini. Seorang presiden bisa saja jatuh dalam sehari hanya karena publikasi media. seorang presiden jelas tak bisa lagi membredel seenak perutnya sendiri sebuah media hanya karena bertentangan dengan dia. Nah untuk itu seharusnya ada kekuatan lain yang bisa mengontrol media agar tidak over power dan menjadi penguasa sendirian. Kritik-kritik masyarakatlah yang seharusnya bisa menghentikan media massa agar tidak bertindak semena-mena. Tak sesuatupun menjadi benar selamanya, tidak seorang menteri, tidak DPR, seorang presiden, tidak juga media massa. apabila ada sesuatu yang menjadi selalu benar, tak tersentuh kritik, pastilah ada sesuatu yang dipaksakan dibaliknya. Contohnya adalah kebijakan pemerintahan Amerika yang hampir selalu menjadi bisa diterima walaupun sebenarnya banyak yang tidak setuju, Itu bukanlah tanpa kritik. mereka tak tersentuh kritik karena dibalik mereka ada sebuah pemaksaan kehendak yang didukung oleh kekuatan militer yang sangat kuat. Jadi ahir-ahirnya kitapun bisa menerima meskipun sebenarnya kita benci cara mereka.

Lalu hubungannya dengan media massa? apabila media massa seolah-olah tak terkritik, ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama adalah masyarakat tak punya ketajaman pemikiran apabila itu menyangkut media massa, kemungkinan karena beranggapan bahwa media hanya penyambung fakta, tapi tak sampai berpikir bahwa fakta kebalikan dari fakta yang disampaikanpun ada. dan fakta tak mungkin tersampaikan semua. Kemungkinan kedua, banyak kritikan yang masuk ke media tapi otomatis tak akan sampai tersebar dan meluas karena media massa tersebut pasti tak mau merugikan diri sendiri dengan menyebarkan kritik tersebut sehingga mengakibatkan rusaknya nama baiknya sendiri. Jika yang terjadi adalah kemungkinan kedua ini, lalu bagaimana caranya kita semua yang mempunyai sudut pandang yang sama dan ingin memperbesar kekuatan kritik untuk media bisa bersatu? Gimana nih?

Iklan
Posted in: opini