Generalisasi,Benarkah Sebuah Pola Pikir yang Salah?

Posted on April 5, 2007

33


       Membaca postingan teman teman blogger tentang generalisasi, mas arif kurniawan dengan postingannya haruskah saya membenci israel dan fourtynine dengan mana yang lebih layak untuk dibenci komunisme atau kapitalisme?, saya jadi tergelitik untuk menulis juga dengan gaya saya sendiri yang tentu saja masih dangkal dan subyektif. generalisasi yang banyak diperdebatkan banyak orang tersebut tanpa kita sadari sebenarnya telah berurat akar dalam kebiasaan berpikir kita, bahkan bagi orang yang dengan lantang mengungkapkan bahwa ia anti dengan generalisasi. Generalisasi menurut kacamata saya yang masih buram ini adalah kesimpulan yang mengandung prasangka(berarti belum pasti) yang berdasarkan atas pengalaman-pengalaman pribadi maupun berdasarkan informasi yang  di peroleh terus menerus tentang sesuatu hal. Sedikit menanggapi postingan mas arif kurniawan, tentang “haruskah saya membenci israel” beserta kontroversinya, saya ingin bertanya kepada blogger semua, apakah yang namanya generalisasi itu benar-benar sesuatu yang salah yang harus kita buang hingga bersih dari pola berpikir kita?

   jika sebuah masyarakat secara terus menerus mengalami penindasan, seperti yang dialami masyarakat palestina yang selalu diganggu, dibombardir, disiksa dan dibunuh oleh sebuah bangsa yang misalnya; disebut israel, tidak berhakkah bangsa palestina tersebut menggeneralisasi sesuai pengalaman mereka bahwa israel itu jahat? lalu kepada siapa mereka hendak melawan, bagaimana mereka membedakan israel yang baik dan israel yang jahat? kalo mereka harus pilih-pilih begitu barangkali mereka akan habis duluan, masalahnya israelnya sendiri tanpa pandang bulu membunuhi orang-orang mereka. secara subyektif saya ingin mengatakan bahwa, generalisasi bangsa palestina ini tentulah karena berdasarkan pengalaman mereka sendiri tentang kekejaman dan kesadisan terhadap mereka. Mohon dibaca juga postingan mas arif yang satunya, Mengapa Saya Membenci FPI? disitu kurang lebih banyak memuat comment-comment yang mengungkapkan pengalaman -pengalaman kurang mengenakkan dengan FPI. dan ini menjadi bukti bahwa, generalisasi adalah hasil dari pengalaman dan informasi tentang sesuatu hal.

       Banyak dari kita takut kepada ular karena kita pernah punya pengalaman digigit, atau barangkali sering mendengar informasi tentang orang digigit ular. mungkin juga karena menonton film, atau membaca buku tentang ular-ular yang berbahaya, karena semua itu berlangsung sejak kecil, pikiran kitapun lalu menggeneralisasi bahwa ular itu berbahaya. Bukankah faktanya tidak semua ular menggigit?  pikiran kita yang telah terlanjur berprasangka membuat kita memilih untuk menjauhi ular.

        Saya sendiri tidaklah menyetujui generalisasi seperti yang dimaksud oleh mas arif kurniawan dalam postingannya, nampaknya kok kejam sekali menghakimi seseorang berdasarkan fatkor-faktor yang orang tersebut tak kuasa merubahnya. Membenci orang kristen karena kekristenannya, atau orang islam karena keislamannya, membenci kulit hitam, membenci orang karena negaranya, hanya disebabkan oleh apa yang dilakukan orang lain dengan identitas yang sama dengan mereka. Tapi saya merasa, saya juga tidak bisa membuang begitu saja pola pikir generalisasi  yang telah tertanam sejak kecil. saya pikir pola pikir generalisasi itu masih ada fungsinya bila digunakkan untuk kasus yang lain. pemilihan umum misalnya, apabila ada 3 orang calon presiden, capres A mendapat dukungan 15% suara, capres B mendapat 35% suara, capres C mendapat 50% suara.lalu kita menjadikan C sebagai presiden karena C dianggap paling mewakili suara rakyat. Padahal kenyataannya, tidak semua suara memilih C bukan? eh, itu bisa gak sih dianggap sebagai generalisasi? menganggap C sebagai representasi pilihan rakyat seluruhnya. masalahnya apabila kita menunggu hingga calon presiden ada yang didukung 100% suara kayaknya gak mungkin. atau kalo ini gak bisa disebut generalisasi, salahkah jika kita melakukan generalisasi seperti kasus ular tadi? 

      Dangkal atau tidak generalisasi yang saya sebut tadi menurut kacamata anda, saya tidaklah bermaksud membuat pembenaran, atau menyalahkan sebuah opini yang sudah ada sebelumnya. Saya hanya menyampaikan jalan pikiran saya, saya justru akan sangat senang jika suatu saat ada seseorang yang datang untuk membetulkan kekeliruan cara berpikir saya. Untuk itu saya mengharapkan komentar dari anda. bagaimana sebenarnya semua ini menurut anda?

Iklan
Posted in: opini