Ke jakarta lagi? ngapain??

Posted on Oktober 25, 2007

4


“Ke jakarta mau ngapain lagi nak?” begitu yang ibu bilang ketika aku berpamitan hendak pergi meninggalkan kota asalku untuk ke Jakarta. Aku bingung menjawab pertanyaan ibu waktu itu, mau ngapain yah? tujuan aku waktu itu memang benar-benar kabur. Apakah benar-benar karena untuk mencari pekerjaan baru untuk menggantikan pekerjaan lama yang tak lagi bisa memenuhi kebutuhan material/immaterial. Atau karena ada sesuatu yang mengecewakan yang tak perlu aku sebutkan disini berhubungan dengan kehidupan sosialku disana sehingga aku begitu saja memutuskan pergi.

Ibu mungkin memiliki pandangan yang jauh ke depan sehubungan apa saja yang aku akan lakukan sehingga beliau dengan segala sumbang pikirnya berusaha mengarahkan aku untuk lebih bijak memikirkan segala akibat dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dimasa depan sehubungan dengan keputusan-keputusanku. Tapi jiwaku yang selalu merasa masih muda memaksakan diri mengeksploitasi waktu dan usiaku demi memenuhi kepentingan jangka pendek seperti rasa penasaran, kekecewaan, dan keinginan untuk menenangkan diri ditempat yang baru.
Ibu mungkin kecewa dengan sikap kekanak-kanakkanku karena itu tak lagi kulakukan diwaktu aku masih anak-anak, tetapi waktu aku telah menjadi dewasa sepenuhnya dan bertanggung jawab penuh atas diri sendiri. Meski ahirnya melepas aku pergi dengan doa, tapi aku tahu, dimanapun aku berada, beliau pasti menginginkan aku berpikir kembali untuk tak jadi pergi.

Tapi kini aku telah berada di Jakarta. Kota yang sejak dulu tak pernah teridur, selalu terjaga dalam gemerlap cahaya ditambah suara bising knalpot kendaraan dan kerumunan manusia. Kota yang semakin lama semakin semrawut dengan berbagai permasalahan sosial yang ada. Kota yang semakin terlihat kumuh meski infrastrukturnya juga semakin bertambah. Kota yang semakin macet meski sarana transportasi sudah diperbanyak. Terahir aku kejakarta adalah tahun 1999, delapan tahun sudah cukup lama untuk bisa mengubah wajah jakarta, tapi ada kemiripan jakarta tahun 1999 dengan tahun 2007, kemiripan ini juga bisa dilihat di banyak kota lain di Indonesia ini. Budaya dan kebiasaan warga kota jakarta tahun 2007 masih tetap sama, kurang perduli terhadap keteraturan dan kebersihan lingkungan. Tak perlu argumen yang panjang buat memperkuat opini ini. Cobalah anda berjalan-jalan ke seluruh pelosok jakarta, niscaya anda takkan bisa membantah lagi. Tapi ini terjadi juga sebagian besar kota di negara kita tercinta ini. Ini adalah budaya bangsa, dan ini sudah sangat umum di indonesia.

Kembali ke: “ngapain kamu ke jakarta??” seperti yang juga banyak di tanyakan teman-temanku. Disini aku juga kembali lunglai merumuskan tujuanku mengapa aku kembali ke kota ini. belum cukupkah aku memenuhi rasa penasaranku terhadap suasana Indonesiaku ini sehingga aku jadi pergi juga? lalu mau apa aku disini? menenangkan diri dan menyepi lagi? sesuatu yang telah aku hentikan tiga tahun yang lalu semenjak aku kembali kerumah dan mencoba dekat dengan sanak keluarga dan teman-teman lama? aku tak kuasa lagi berpikir jernih untuk semua yang aku hadapi saat ini, meski aku selalu mencoba optimis dan tenang menghadapi semua, tak urung keraguan selalu muncul menjadi parasit yang selalu merongrong kekuatanku untuk tetap berdiri tegak. Semoga semua kejujuran ini membawa suasana baru dalam pikiranku yang sedang kusut. Semoga besok semuanya akan lebih terang sehingga aku lebih mantap meneruskan langkahku.

Iklan
Posted in: poems